Jumat, 12 Desember 2014

MAKALAH PERMAINAN TRADISIONAL



MAKALAH PERMAINAN TRADISIONAL YOYO DAN ENGKLEK
Di Ajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bermain dan Permainan Anak






http://ts3.mm.bing.net/th?id=H.4744573954032878&pid=15.1
Add caption




Di Susun Oleh :
Linda Susana Jaya

Dosen:
Lina Fitria, S.Sos



SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PANCA SAKTI
(STIKIP PANCA SAKTI)
Jalan Hasanudin Plaza Metropolitan Tambun
A. PERMAINAN TRADISIONAL YOYO

Permainan tradisional Yoyo, siapa yang belum pernah melihatnya? Pasti hampir semua orang pernah melihat atau bahkan pernah memainkan permainan tradisional Yoyo ini.

Ya, Yoyo memang sebuah permainan anak kecil, namun sekarang ini kita lihat pemain Yoyo tidak lagi terbatas pada anak kecil tapi sudah merambah ke orang dewasa.

Yoyo adalah sebuah alat permainan yang terdiri dari 2 bagian lempengan yang berbentuk bundar kecil. Kedua buah lempengan bundar ini saling menempel dengan sebuah celah sempit di antaranya. Pada celah sempit di tengah yang menghubungkan dua lempengan ini diikat dengan seutas tali. Tali ini biasanya sepanjang sekitar 1 meter dan di ujung satunya biasanya dikaitkan ke jari tangan.

Sejarah Permainan Tradisional Yoyo

Kita sering melihat permainan tradisional Yoyo, namun tahukah anda bagaimana awal mula sejarah Yoyo sampai dikenal luas seperti sekarang ini? Sejarah permainan tradisional Yoyo bermula pada sebuah catatan sejarah di sekitar Yunani. Pada saat itu diyakini dalam sejarahnya Yoyo terbuat dari kayu, logam, atau gerabah.

Sebuah bukti sejarah Yoyo, yaitu telah ditemukannya sebuah Yoyo yang terbuat dari gerabah (semacam keramik) yang merupakan peninggalan sejarah dari sekitar 500 tahun sebelum masehi. Pada masa itu dipercaya bahwa mainan dari lempengan gerabah ini merupakan sebuah mainan anak yang digunakan pada sebuah upacara keagamaan tertentu. Pada upacara ini Yoyo dari gerabah akan dipersembahkan oleh seorang anak kepada dewa, sebagai simbol bahwa anak tersebut telah mencapai usia kedewasaan.

Munculnya Permainan Tradisional Yoyo Modern

Sejarah permainan tradisional yoyo kemudian berlanjut dengan lahirnya permainan yoyo modern. Populernya permainan tradisional yoyo ini tidak lepas dari sebuah perusahaan mainan yoyo yang didirikan oleh seorang Amerika keturunan Filipina bernama Pedro Flores di California pada tahun 1928. Dari pabrik inilah mainan yoyo mulai diproduksi secara besar-besaran.

Dilanjutkan secara resmi di tahun 1929 seorang pengusaha bernama Donald F. Duncan membeli perusahaan Flores dan seluruh asetnya. Lalu secara resmi pula mendaftarkan nama Yoyo sebgai nama merk dagang pada tahun 1932. Sejak saat itulah permainan tradisional yoyo mengalami masa keemasan dan sempat mengalami keterpurukan pada era Perang Dunia. Namun kembali berjaya sampai era modern ini.
Sejarah Nama Permainan Tradisional Yoyo

Beberapa catatan sejarah telah menyebutkan bahwa kata yoyo berasal dari bahasa Ilocano dari Filipina. Ada juga yang menyebutkan bahwa kata yoyo berasal dari bagasa Tagalig dari Filipina. Dalam bahasa Tagalog kata yoyo berarti “kemari-kemari” atau “kembali”.

Gambar Permainan Tradisional YoyoPada permainan tradisional yoyo tradisional, yoyo diikat dengan tali menggunakan simpul. Hal ini membuat yoyo hanya dapat bergerak ke bawah dan ke atas saja. Tetapi dingan adanya tehnik tali yoyo yang dipopulerkan di Amerika, permainan yoyo menjadi lebih menarik.

Pada tehnik modern di Amerika, sebagai talinya mereka menggunakan tali panjang dilipat menjadi dua lalu dipelintir sedemikian rupa, sehingga tidak ada simpul mati sedikitpun pada celah yoyo. Dengan cara modern ini yoyo dapat berputar sendiri di bawah (tidak langsung naik). Dan pada akhirnya tehnik tali yang baru inilah yang membuat permainan tradisional yoyo semakin menarik dan semakin dikenal luas.

Cara Bermain Permainan Tradisional Yoyo

Permainan tradisional Yoyo sebenarnya sangat mudah untuk dimainkan, bahkan oleh anak-anak sekalipun. Hanya saja bagi yang belum pernah memainkannya pasti akan sedikit mengalami kesulitan. Tapi hanya dengan beberapa kali latihan percobaan saja pasti sudah bisa bermain.

Permainan tradisional Yoyo dimainkan dengan cara diputar. Begini cara bermainnya :
  1. Mula-mula Yoyo dililit dengan tali yang ada pada celah di tengah-tengah Yoyo. 
  2. Tali itu dililitkan memutari celah di tengah sampai seluruh tali terlilit dan meninggalkan ujung tali saja. 
  3. Lalu ujung tali (yang biasanya diberi kait) dikaitkan atau diikatkan di salah satu jari biasanya jari telunjuk atau jari tengah. 
  4. Kemudian buah Yoyo dilemparkan ke bawah. 
  5. Untuk Yoyo yang bagus dan seimbang ikatannya, dia akan bisa berputar sendiri di bawah. 
  6. Dengan sedikit sentakan tali ke arah atas, maka Yoyo yang sedang berputar di bawah akan naik ke atas dengan sendirinya. 


Permainan Tradisional Yoyo di Era Modern

Yoyo yang dibuat pada masa sekarang ini telah melalui banyak sekali perubahan teknologi, terutama pada pengembangan teknologi di poros as-nya. Dengan teknologi yang paling baru, sekarang ini yoyo mampu berputar bebas dengan waktu yang jauh lebih lama. Hal ini terjadi karena pengembangan teknologi yang telah mampu membuat poros yoyo mengalami pengurangan gesekan yang sangat signifikan.

Dengan berkurangnya gesekan pada poros yoyo dengan tali, maka jelas telah membuat yoyo bisa berputar bebas dengan sangat lama. Dan hal ini kemudian juga sangat berpengaruh dengan berkembangnya tehnik permainan tradisional yoyo. Karena yoyo modern dapat berputar bebas dengan sangat lama, maka pemain bisa menciptakan berbagai macam gaya bermain yoyo.

Sampai pada akhirnya dengan perkembangan pesat permainan tradisional yoyo, membuat banyak bermunculannya kontes-kontes atau lomba bermain yoyo di seluruh dunia. Pada kontes yoyo biasanya akan dipertandingkan berbagai gaya dan tehnik bermain yoyo diantara para peserta permainan tradisional yoyo.

















B. PERMAINAN TRADISIONAL ENGKLEK

Permainan Tradisional Engklek sering disebut juga sebagai permainan tradisional Sunda Manda. Engklek merupakan sebuah permainan tradisional yang sudah banyak dikenal oleh anak-anak di Indonesia.

Telah banyak dimainkan oleh anak-anak pada masa dahulu, bahkan sekarang ini permainan tradisional engklek juga dimainkan oleh anak-anak muda.

Permainan Tradisional Engklek Dan Sejarahnya

Permainan tradisional engklek yang juga disebut dengan sunda manda ini diyakini mempunyai nama asli ‘Zondag Maandag’ yang merupakan bahasa Belanda. Jadi berdasar sejarahnya memang permainan tradisional engklek ini masuk ke Indonesia melalui Belanda yang pada masa lalu menjajah Indonesia. Diyakini pada masa penjajahan inilah permainan tradisional engklek dibawa masuk ke Indonesia oleh Belanda.

Memang sampai dengan saat ini tidak ada bukti sejarah yang otentik yang dapat menyimpulkan mengenai sejarah permainan tradisional engklek. Namun permainan tradisional engklek ini sudah sangat populer di kalangan anak perempuan di Eropa pada masa perang dunia.

Sedangkan di Indonesia pada masa penjajahan Belanda banyak dijumpai anak-anak perempuan Belanda bermain permainan tradisional engklek ini. Memang permainan ini lebih banyak dimainkan oleh anak perempuan, walaupun ternyata kemudian anak-anak lelaki pun banyak yang turut bermain permainan tradisional engklek.

Setelah Indonesia merdeka dari penjajahan, permainan tradisional engklek tetap bertahan di Indonesia dan menjadi semakin dikenal oleh anak-anak kecil di Indonesia. Begitupun dalam hal penyebarannya, semakin lama permainan tradisional engklek semakin populer dan menyebar ke seluruh pelosok negeri ini. Hingga akhirnya bisa dibilang tidak ada anak kecil yang tidak tahu permainan tradisional engklek.

Seperti Apakah Permainan Tradisional Engklek Itu?

Mungkin juga ada diantara kita yang belum tahu seperti apakah sebenarnya permainan tradisional engklek itu. Hal ini wajar karena sekarang ini permainan tradisional engklek memang telah jarang ditemukan diantara permainan anak zaman sekarang.



Pemain Dalam Permainan Tradisional Engklek

Permainan tradisional engklek biasanya dimainkan oleh anak perempuan. Jarang sekali permainan tradisional engklek dilakukan oleh anak laki-laki ataupun anak remaja. Mungkin karena permainan tradisional ini lebih identik dengan perempuan.

Engklek bisa dimainkan hanya oleh 1 orang anak saja, bisa lebih dari 1 anak, tapi bisa juga dimainkan secara beregu. Biasanya untuk permainan beregu akan dimainkan oleh 2 regu yang masing-masing terdiri dari beberapa anak.

Lapangan Untuk Permainan Tradisional Engklek

Gambar Permainan Tradisional EngklekUntuk dapat memainkannya, para pemain harus memainkan engklek di halaman. Permainan ini memang sebuah permainan outdoor atau permainan yang harus dilakukan di luar rumah. Memerlukan sebuah pekarangan kecil untuk dapat memainkan permainan tradisional engklek. Diperlukan sebuah tanah pekarangan yang datar dengan ukuran kurang lebih 3 – 4 m2. Bisa di atas tanah, pelataran ubin, ataupun aspal.

Lapangan atau arena engklek biasanya berupa kotak-kotak atau persegi panjang dengan ukuran sekitar 30 – 60 cm2. Untuk membuat lapangan, anak-anak biasanya menggunakan kapur tulis, pecahan genteng, arang, atau apapun untuk menggambar lapangan engklek.

Cara Bermain Permainan Tradisional Engklek

Permainan tradisional engklek adalah sebuah permainan tradisional sederhana yang dilakukan dengan cara melemparkan sebuah pecahan genteng atau batu berbentuk pipih. Satu anak hanya akan memiliki 1 pecahan genting (kreweng) yang disebut ‘Gacuk’.

Permainan dilakukan secara bergantian. Para pemain akan mengundi urutan pemain yang akan bermain. Pemain pertama harus melemparkan pecahan gentingnya ke kotak pertama yang terdekat. Setelah itu dia harus melompat-lompat ke semua kotak secara berurutan hanya degan menggunakan 1 kaki, sedangkan kaki yang lainnya harus diangkat dan tidak boleh turun menyentuh tanah. Kotak yang terdapat gacuk milik pemain tersebut tidak boleh diinjak (harus dilewati). Dan pemain yang sedang bermain dengan meloncat dilarang untuk menyentuh atau menginjak garis pembatas.

Pemain permainan tradisional engklek harus meloncat ke setiap kotak sampai di ujung terjauh yang biasanya berbentuk setengah lingkaran atau kotak yang besar. Dari sana dia harus kembali dengan cara melompat lagi. Saat sampai di kotak yang terdapat gacuk miliknya, dia harus mengambil gacuk itu dengan tangannya, sementara itu sebelah kakinya harus tetap terangkat dan tidak boleh menyentuh tanah. Kemudian dia harus melanjutkan membawa gacuk tersebut sampai keluar kotak pertama.

Pemain permainan tradisional engklek yang sedang bermain harus mengulang permainan ini dengan melempar gacuk dari mulai kotak pertama terus sampai semua kotak, dan akhirnya selesai kembali ke kotak pertama lagi. Namun bagi pemain yang melanggar aturan tidak boleh melanjutkan permainan, dan digantikan oleh pemain berikutnya. Tapi dia boleh melanjutkan permainannnya setelah semua pemain mendapat giliran bermain.

Permainan selesai jika gacuk seorang pemain telah melalui semua kotak sampai kembali lagi ke kotak pertama dengan selamat. Setelah itu pemain tersebut akan berdiri membelakangi lapangan engklek dan melemparkan gacuk-nya ke belakang. Jika beruntung gacuk itu akan berhenti di dalam salah satu yang kosong. Nah kotak itu akan menjadi miliknya atau rumahnya.

Tapi jika lemparan gacuk-nya melesat keluar arena atau menyentuh garis batas, maka pemain itu harus mengulang lemparannya setelah pemain berikutnya melempar. Nah aturan lainnya adalah kotak yang sudah ada pemiliknya tidak boleh diinjak pemain lain ataupun disentuh oleh gacuk pemain lain yang dilempar.

Filosofi Permainan Tradisional Engklek

Permainan tradisional engklek sebenarnya juga memiliki makna filosofis. Permainan tradisional engklek bisa diartikan sebagai simbol dari usaha manusia untuk membangun tempat tinggalnya atau rumahnya. Selain itu permainan tradisional engklek juga memiliki filosofi sebagai simbol usaha manusia untuk mencapai kekuasaan.

Namun dalam pencapaian usaha itu tentu saja manusia tidak bisa sembarangan dengan menabrak semua tata aturan yang telah ada. Namun selalu tetap berusaha selaras dengan aturan yang telah dibuat. Nah dalam permainan tradisional engklek ini juga ada aturan-aturan baku yang menjadi patokan saat bermain permainan tradisional engklek. - See more at: http://permainantradisional1.blogspot.com/2013/01/permainan-tradisional-engklek.html#sthash.yZHaBx0R.dpuf



MAKALAH MANAJEMEN PAUD
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Salah satu upaya memaksimalkan bakat, potensi, kecerdasan, dankreativitas anak ialah dengan menyertakannya dalam kegiatan sekolah usia diniatau PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ). Sedini mungkin anak diasah untuk  bersikap disiplin, bertanggung jawab, berjiwa sosial, kreatif, inovaif, penuhdedikasi, menjalankan program dll. Dengan metode yang tepat, kurikulum bagusdan lembaga bonafid niscaya anak akan lebih mampu bekembang pesat dibandingmereka yang tidak diasah melalui program PAUD tersebut.
Namun tidak semua lembaga penyelenggara PAUD mulai jenjangPreSchool, Play Group, dan TK mampu menyediakan metode, sarana, dan fasilitas penunjang kesuksesan pendidikan usia dini tersebut. Untuk itulah, para orang tuaharus mampu menentukan secara strategis lembaga yang dipilihnya. Demikian pula para penyelenggara harus mampu memperbaiki segala kekurangan yangmenghambat tujuan utama PAUD tersebut karena anak-anak usia dini yang identik dengan kegiatan bermain menjadi fase yang sangat menentukan perjalanan hidup manusia. Sehingga, merencanakan dan melaksanakan pendidikan pada usia diniini menjadi sebuah keniscayaan yang tidak boleh disepelekan dan ditelantarkan.
Jika hal ini tidak diperhatikan, masa depan kualitas generasi penerus bangsa akansemakin mundur, kalah jauh dibanding negara-negara lain yang selalu sigap dancepat mempersiapkan kader-kader andalnya di era kompetisi global sekarang. Negara ini tidak boleh lagi kecolongan dan ketinggalan. Pendidikan anak usia dini harus segera didirikan dan dikelola secara profesional di seluruh pelosok negeri ini. PAUD ini menjadi solusi terbaik pembentukan moral, agama, emosi,sosial, dan spirit kompetisi. Dengan PAUD, fase perkembangan anak akan berjalan secara fungsional dan produktif sehingga membentuk karakter yang kuat,kokoh dan progresif.
B.     Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini, rumusan masalah yang diajukan adalah:
•Bagaimana sistem kelembagaan pada PAUD ?
•Bagaimana metode pengajaran ?
•Apa kurikulum yang dipakai ?
•Keterampilan apa saja yang diberikan di PAUD ?
•Pelatihan-pelatihan apa saja yang ada di PAUD ?

C.    Tujuan
Dalam penyusunan makalah ini, tujuannya adalah:
•Bagaimana sistem kelembagaan pada PAUD ?
•Bagaimana metode pengajaran ?
•Apa kurikulum yang dipakai ?
•Keterampilan apa saja yang diberikan di PAUD ?
•Pelatihan-pelatihan apa saja yang ada di PAUD ?






























 BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kelembagaan
Mengelola pendidikan bukanlah mengelola sebuah tempat usaha barang, melainkan mengelola sumber daya manusia yang memiliki keunikan-keunikan masing-masing. Untuk itu,dibutuhkan formula yang tepat dalam mengatur segala permasalahan manejemen pendidikan anak usia dini (PAUD). Ada beberapa model penataan kelembagaan yang konvensional. Karena iu kita harus mencari modelyang paling tepat agar PAUD bisa berkembang dengan baik. Model manejemenkelembagaan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
       Pengelolaan PAUD selama ini terlalu banyak seninya disbanding dengan ilmunya sehingga gaya manejemen yang dilakukan lebih bersifat trial and error.
       Penerapan manajemen “gotong royong “ artinya semua orang melakukan semua pekerjaan. Tidak ada pembagian kerja yang tegas dan jelas.Sehingga proses manajemen tidak berlangsung secara efektif dan efisien.
       Bahkan sering terjadi benturan antara satu unit dengan unit lainnya. Inilah yang menyebabkan pendayagunaan sumber daya organisasi tidak secara sinergis dan banyak pemborosan. Dalam hal ini yang terjadi adalah sama-sama bekerja bukan kerja sama.
       Gaya manajemen tukang cukur yaitu satu orang melakukan semua pekerjaan, mulai dari membuka kios, menyapu, memotong rambut, menutupkios dan mengelola keuangan sekaligus. Dalam organisasi banyak orang yangmerasa dirinya mampu dalam segala hal dan tidak memberikan porsi pekerjaankepada orang lain. Akibatnya organisasi yang semestinya dapat menjalankan beban pekerjaan yang lebih banyak justru tidak dapat melakukan pekerjaankarena tersentralisasi di tangan beberapa orang saja sedang yang lain justrukurang pekerjaan.
       Penerapan manajemen “sungkanisme” yaitu suatu manajemenyang tidak asertif. Budaya sungkan (segan) menegur kesalahan teman dan budaya marah kalau ditegur teman membuat organisasi berjalan tak tentu arah,sehingga tidak bisa mencapai tujuan yang dikehendaki.Empat model manajemen tersebut memiliki banyak kekurangan. Tidak ada aspek struktural, job description, koordinasi, evaluasi dan proyeksi ke depan. Dalamkonteks ini dibutuhkan model manajemen yang lebih dinamis, progresif, danmempunyai unsur pemberdayaan dan penguatan. Disinilah pentingnya manajemen partisipatif yang mengedepankan kolektivitas, teamwork, soliditas dan kualitaskinerja.

B.     Metode Pengajaran
Mengajar anak usia dini membutuhkan metodologi yang unik dan kreatif. Disinilahsignifikansi dan urgensi peran seorang guru dalam mendidik dan menggali potensianak didik. Menurut Rini Utami Aziz, pendidik harus memiliki kualifikasiakademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani,serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Dalam pasal 29, pendidik pada pendidikan anak usia dini harus diploma (D-IV) atausarjana (S1) latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan anak usia dini,kependidikan lain, atau psikologi dan sertifikat profesi guru untuk PAUD.
Kualitas pendidik sangat menentukan hasil pembelajaran yang dicapai. Kegagalandan kesuksesan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas tenaga pengajar yangmenguasai materi, metodologi pengajaran dan skills yang profesional.
Tahapan mengajar anak usia dini
Walaupun pendidikan berlangsung sepanjang hayat namun menurut MariaMontessori, enam tahun pertama masa anak adalah jangka waktu yang paling penting bagi perkembangannya. Tahun prasekolah menjadi masa anak membinakepribadian mereka. Karenanya setiap usaha yang di rancang untuk mengembangkan minat dan potensi anak harus dilakukan pada awal ini untuk membimbing anak menjadi diri mereka dengan segala kelebihannya. Orang tua dan pendidik harus dapat membantu anak menyadari dan merealisasikan potensi anak untuk menimba ilmu pengetahuan, bakat, dan kepribadian yang utuh.Selain tawaran beberapa metode di atas ada beberapa etode pengajaran lain yanglayak dipertimbangkan untuk mencapai hasil maksimal dalam pengajaran anak usiadini yaitu :
   Metode Global (Ganze Method)Anak belajar membuat suatu kesimpulan dengan kalimatnya sendiri. Contohnyaketika membaca buku, minta anak menceritakan kembali dengan rangkaiankatanya sendiri. Sehingga informasi yang anak peroleh dari hasil belajar sendiriakan dapat diserap lebih lama. Dengan demikian anak akan terlatih berpikir kreatif dan berinisiatif.
   Metode Percobaan (Experimental method)Metode pengajaran ini mendorong dan memberi kesempatan anak melakukan percobaan sendiri. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Maryam, staf pengajar di Sekolah Alam Ciganjur, Jakarta Selatan yang menyatakan bahwa terdapattiga tahapan yang dilakukan anak untuk memudahkan masuknya informasiyaitu mendengar, menulis atau menggambar lalu melihat dan melakukan percobaan sendiri. Misalnya anak belajar tentang tanaman piang, lalu belajar menanamnya.
   Metode Learning by doingMenurut Nazhori Author, sabda Rasulullah yang berbunyi “ sholatlah kamuseperti kamu lihat aku sholat “ adalah sebuah bukti bahwa proses belajar mengajar sudah berlangsung sejak zaman Rasululla sebagai fondasi awal dalam pendidikan Islam. Sabda tersebut juga mengandung unsur pedagogis dimana bahasa nonverbal yang disampaikan Rasulullah sampai saat ini masih menjadi bumbu penyedap dalam melengkapi meteode pengajaran. Artinya bahasanonverbal memegang peranan dalam proses belajar mengajar. Bahkan bahasanonverbal banyak dgunakan taman kanak-kanak atau kelompok bermain (playgroup) yang banyak mengadopsi model belajar kindergarten nya froebel danmodel belajar Casa Dei Bambini nya Montessori.
   Metode Home Schooling GroupRumah merupakan lingkungan terdekat anak dan tempat belajar yang paling baik buat anak. Di rumah, anak bisa belajar selaras dengan keinginannyasendiri. Ia tak perlu duduk menunggu sampai bel berbunyi, tidak perlu harus bersaing dengan anak-anak yang lain, tidak perlu harus ketakutan menjawabsalah di depan kelas dan bisa langsung mendapatkan penghargaan atau pembetulan jika membuat kesalahan. Disinilah peran ibu menjadi sangat penting karena tugas utama ibu adalah pengatur rumah tangga dan pendidik anak. Di dalam rumah banyak sekali sarana-sarana yang bisa dipakai untuk  pembelajaran anak. Anak dapat belajar banyak sekali konsep tentang benda,warna, bentuk dan sebagainya sembari ibu memasak di dapur
 Pembelajaran BilingualSatu pertanyaan yang muncul sebagai tanggapan terhadap kecenderungan pengajaran bahasa inggris pada anak-anak adalah sebagai berikut “ sudah perlukah bahasa inggris diajarkan pada anak-anak ?” Pertanyaan ini tampaknyamudah diajukan. Jawaban terhadap pertanyaan ini bisa sederhana namun bisa juga memerlukan penjelasan panjang lebar, bahkan pertanyaan yang sederhanatersebut dapat memunculkan kontroversi yang berkepanjangan. Setidaknya adatiga alasan mengapa anak-anak perlu mempelajari bahasa inggris pada usiadini. Alasan pertama adalah tuntutan pragmatis. Tidak dapat dipungkiri bahwasaat ini tembok pembatas geografis antar wilayah atau bahkan antar negarasudah mulai runtuh, berguguran satu persatu akibat globalisasi. Perkembanganteknologi komunikasi dan informasi tampaknya merupakan salah satu faktor yang bertanggung jawab atas semakin terbukanya hubungan antar manusia pada era global ini. Dampak yang segera kita amati dengan runtuhnya tembok pembatas tersebut ialah semakin mudahnya satu individu, bahkan antar bangsadi tempat yang berbeda dan berada di belahan dunia yang lain berhubungandengan individu lainnya pada waktu yang sesungguhnya (real time).Alasan kedua merujuk pada alasan legal formal dan kesepakatan internasional.Undang-undang Dasar 1945 memberikan amanar kepada pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. UU No 23 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan pengajaran guna pengembangan kepribadiannya dankecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.Alasan yang ketiga adalah konseptual. Brumfit (1991 : 11-12) menyatakanargumentasinya terkait dengan faktor usia muda bahwa tidak ada alasan kuatdalam pembelajaran anak-anak untuk tidak mengajarkan bahasa kedua padamereka. Setidaknya ada empat faktor yang ia rujuk untuk mendasariargumentasinya tersebut. Tiga faktor pertama tampaknya elevan untuk dibahas.Faktor pertama adalah proses pematangan. Proses pematangan ini tampaknyalebih berpihak pada pembelajar bahasa usia muda seorang anak belajar bahasasemakin mudah ia akan menguasai bahasa tersebut. Faktor kedua yang berperan penting pada anak-anak dalam mempelajari bahasa adalah emosi dan perasaan.Brown (1994: 135-152) mereview beberapa faktor yang terkait dengan faktor afektif dalam pembelajaran bahasa. Faktor-faktor tersebut adalah self esteem,inhibition, risk taking, anxiety, empathy, extroversion dan motivation. Padafaktor tersebut anak-anak cenderung memiliki nilai yang lebih positif dibanding pembelajaran dewasa. Misalnya anak-anak tidak memiliki beban mental yang berlebihan saat mempelajari bahasa asing, ketakutan membuat kesalahanrendah, dan siswa memiliki keiinginan yang lebih baik untuk mempelajari hal-hal baru lewat bahasa asing.Faktor ketiga adalah lingkungan. Anak-anak cenderung memiliki peluang yanglebih baik dalam mengintegrasikan kebutuhan komunikasi yang sesungguhnyadengan pengalaman kebahasaan barunya. Maksudnya dalam usia yang ditandaidengan eksplorasi terhadap lingkungannya, anak-anak lebih memiliki peluangyang lebih baik dalam menggunakan bahasa secara alami untuk mempresentasikan pemahamannya terhadap lingkungannya. Oleh karena itukebutuhan berkomunikasi anak-anak dengan dengan menggunakan bahasadalam lingkungan sekitarnya lebih terakomodasi secara luas dan alami.
C.    Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan belajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum adalah inti sebuah lembaga pendidikan. Kurikulum yang benar akan menghasilkan pengajaran dan kegiatan yang terpadu dan holistik yang mengarah kepada visi danmisi lembaga pendidikan yang dicanangkan. Disinilah pentingnya menyusunkurikulum yang visioner dan prospektif.Sehubungan dengan ciri-ciri di atas, tugas perkembangan yang di emban anak-anak adalah sebagai berikut :
  Belajar keterampilan fisik yang diperlukan untuk bermain
  Membangun sikap yang sehat terhadap diri sendiri
  Belajar menyesuaikan diri dengan teman sebayanya
  Mengembangkan peran sosial sebagai lelaki atau perempuan
  Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan dalam hidupsehari-hari
  Mengembangkan hati nurani penghayatan moral, dan sopan santun
  Mengembangkan keterampilan dasar untuk membaca, menulis,matematika dan berhitung
  Mengembangkan diri untuk mencapai kemerdekaan diriDalam pengembangan kurikulum ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan :
   Bersifat komprehensif. Kurikulum harus menyediakan pengalaman belajar yang meningkatkan pekembangan anak secara menyeluruhdalam berbagai aspek perkembangan
Dikembangkan atas dasar pekembangan secara bertahap.Kurikulum harus menyediakan berbagai kegiatan dan interaksi yang tepatdidasarkan pada usia dan tahapan perkembangan setiap anak
  Melibatkan orang tua sebagai pendidik utama bagi anak
  Melayani kebutuhan individu anak
  Merefleksikan kebutuhan dan nilai masyarakat
  Mengembangkan standar kompetensi anak
Mewadahi layanan anak yang memiliki kebutuhan khusus
  Menjalin kemitraan dengan keluarga dan masyarakat
  Memperhatikan kesehatan dan keselamatan anak
  Menjabarkan prosedur pengelolaan lembaga
  Memanejemen sumber daya manusia
  Penyediaan sarana dan prasarana Komponen Kurikulum
a.Anak Sasaran layanan pendidikan anak usia dini adalah anak yang berada padarentang usia 0-6 tahun. Pengelompokkan anak didasarkan pada usia sebagai berikut :1.0-1 tahun2.1-2 tahun3.2-3 tahun4.3-4 tahun5.4-5 tahun6.5-6 tahun
b.Pendidik Kompetensi pendidik anak usia dini memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya Diploma Empat (D-IV) atau sarjana (S-1) di bidang pendidikan anak usia dini, kependidikan lain, atau psikologi dan memiliki sertifikasi profesi guruPAUD atau sekurang-kurangnya telah mendapatkan pelatihan pendidikan anak usia dini. Adapun rasio pendidik dan anak adalah sebagai berikut :1.Usia 0-1 tahun rasio 1:3 anak 2.Usia 1-3 tahun rasio 1:6 anak 3.Usia 3-4 tahun rasio 1:8 anak 4.Usia 4-6 tahun rasio 1:10/12 anak
c. Pembelajaran Pembelajaran dilakukan melalui kegiatan bermain yang dipersiapkan oleh pendidik dengan menyiapkan materi (content) dan proses belajar. Materi belajar  bagi anak usia dini dibagi dalam dua kelompok usia. Materi usia lahir sampai 3tahun meliputi :
   Pengenalan diri sendiri (perkembangan konsep diri)
2Pengenalan perasaan (perkembangan emosi)
PPengenalan tentang orang lain (perkembangan sosial)
  Pengenalan berbagai gerak (perkembangan fisik)
5Mengembangkan komunikasi (perkembangan bahasa)
   Keterampilan berpikir (perkembangan kognitif)
d.Penilaian (Assessment)Assessment adalah proses pengumpulan data, dokumentasi belajar, dan perkembangan anak. Assessment dilakukan melalui observasi , konferensidengan para guru, survei, wawancara dengan orang tua, hasil kerja anak danunjuk kerja. Keseluruhan penilaian dapat dibuat dalam bentuk portofolio.
e.Pengelolaan PembelajaranLembaga pendidikan anak usia dini dilaksanakan sesuai satuan pendidikanmasing-masing. Jumlah hari dan jam layanan antara lain sebagai berikut :
Ø  Taman Penitipan Anak (TPA) dilaksanakan 3-5 hari dengan jam layananminimal 6 jam. Minimal layanan dalam satu tahun 144-160 hari atau 32-3minggu
Ø  Kelompok Bermain (KB) dilaksanakan setiap hari atau minimal 3 kaliseminggu dengan jumlah jam minimal 3 jam. Minimal layanan dalam satutahun 144-hari 32-34 minggu
Ø  Satuan PAUD sejenis (SPS) dilaksanakan minimal satu minggu sekalidengan jam layanan minimal 2 jam.
Ø  Taman Kanak-kanak (TK) dilaksanakan minimal 5 hari setiap minggudengan jam layanan minimal 2,5 jam.
f.Melibatkan Peran MasyarakatPelaksanaan pendidikan anak usia dini hendaknya dapat melibatkan seluruhkomponen masyarakat. Penyelenggaraan pendidikan anak usai dini dapatdilakukan oleh swasta dan pemerintah, yayasan maupun perorangan.
Penilaian Kurikulum Evaluasi / penilaian adalah suatu analisis yang sistematis untuk melihat efektivitas program yang diberikan dan pengaruh program tersebut terhadap anak. Penilaian kurikulum dilakukan secara berkala dan berkesinambungan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Penilaian kurikulum dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakurikulum dilaksanakan dan kesesuainnya dengan kerangka dasar fungsi dan tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian dengan tuntutan perkembangan yang terjadidi masyarakat. Hasil penilaian kurikulum digunakan untuk menyempurnakan pelaksanaan dan mengembangkan kurikulum selanjutnya.Kurikulum dan pengembangannya, sebagaimana keterangan di atas, harusdijadikan standar pembelajaran PAUD agar ada standar minimal kualitas yang dicapai. Adapun dinamisasi dan optimalisasi menuju akselerasi kualitas sangat ditentukan oleh profesionalitas manajemen yang mengandalkan ide-ide progresif dari struktur yang diisi kader-kader berkualitas.
 D.Ketrampilan
Keterampilan yang seharusnya dikuasai anak-anak peserta PAUD adalah keterampilan melukis, menggambar, memainkan permainan edukatif, mengenalikemampuan terbesarnya dan lain-lain dengan latihan intensif. Keterampilan-keterampilan ini bisa berkembang sesuai dengan perkembangan potensi anak didik yang ada, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan pesatnya gelombanginformasi yang berjalan secara massif dan eskalatif. Dalam konteks ini, guru berperan aktif mengembangkan ketrampilan anak didik secara maksimal,mempunyai tips-tips dengan bakat dan minatnya.Fisilitas, sarana prasarana dan perangkat yang lain harus disiapkan demi suksesnya pendidikan keterampilan anak usia dini. Dengan sarana prasarana yang memadai,anak tertarik untuk mencoba sampai bisa, mengingat watak dasar anak adalahmeniru dan melakukan apa saja yang disenanginya. Salah satu keterampilan yangseharusnya dikuasai anak usia dini adalah keterampilan musik yang membangun jiwa,emosi, spiritual dan sosial bukan yang merusak.Menurut Sugiman, beberapa psikolog melihat bahwa pengaruh positf musik padamanusia tidak semudah analogi obat atas penyakit tertentu. Dr Alexandra Lemont(2000), pakar psikologi musik dari Universitas Keele di Inggris mengatakan tidak ada bukti yang menyatakan bahwa hanya dengan mendengarkan musik dapatmemberikan pengaruh pada kecerdasan maupun emosi anak.Beberapa fakta menunjukkan bahwa keterlibatan aktif dengan musikal lah yangmenyebabkan musik mempunyai pengaruh positif bagi manusia. Aktif di sini tidak hanya bermakna fisikal atau motorik tetapi juga secara mental, emosional dan spiritual. Memberi makna dan nilai musik sebagai suatu hal yang berharga, bermanfaat dan menyenangkan. Musik tidak sekedar dipandang sebagai suaturangkaian bunyi yang harus dimainkan atau didengarkan namun juga rangkaian bunyi indah yang jika disimak lebih mendalam bisa menyampaikan sesuatu yang berharga kepada seseorang.
E.Pelatihan
Manajemen PAUD yang terdiri dari kelembagaan, metode pengajaran dankurikulum adalah hal-hal yang harus dipahami, baik secara teoritis dan praktis, oleh pengelola PAUD dan orang-orang yan terkait di dalamnya. Untuk itu dibutuhkan pelatihan-pelatihan secara intensif dan eksensif bagi calon pengelola PAUD agar materi dasar manajemen kelembagaan, metode pengajaran, dan kurikulum dapatdipahami secara mendalam. Pelatihan ini harus dirancang secara sistematis, efisiendan efektif dengan jadwal yang tepat dan produktif. Secara tekhnis pelatihan inimembutuhkan narasumber yan berkualitas baik dari akademisi, birokrat maupun praktisi, tips-tips khusus aplikasi dan implementasi nya serta simulasi dan praktik langsung.Menurut Dr. Fidesrinur M.Pd, profesionalisme pendidik PAUD harus ditingkatkanmelalui pelatihan-pelatihan, insentif atau penghargaan dari pemerintah sehinggaeksistensi pendidik PAUD dihargai dan diterima masyarakat. Pelatihan yang harusdilakukan dan diterima masyarakat. Pelatihan yang harus dilakukan oleh NationalEarly Childhood Specialist Team (NEST) yang diprogramkan oleh Depdiknas pada bulan maret 2007 lalu di sembilan kecamatan di daerah jakarta barat merupakansalah satu cara efektif dalam meningkatkan eksistensi pendidik PAUD.Cara lain untuk memberikan penyegaran pada pendidik PAUD adalah dengan kerjasama Diknas dengan universitas atau sekolah tinggi yang memiliki program studiPAUD. Selain untuk mempersiapkan calon tutor PAUD telatih, pelatihandiselenggarakan juga untuk menyadarkan dan meyakinkan masyarakat akan pentingnya menyelenggarakan program pendidikan anak usia dini denganmelibatkan masyarakat setempat. Setelah mengikuti pelatihan ini, para pesertadiharapkan mampu dan siap menjadi tutor PAUD dan daat menyelenggarakan pendidikan anak usia dini dengan tepat dan benar sesuai dengan kebutuhan dankondisi setempat.





















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Salah satu upaya memaksimalkan bakat, potensi, kecerdasan, dankreativitas anak ialah dengan menyertakannya dalam kegiatan sekolah usia diniatau PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ). Sedini mungkin anak diasah untuk  bersikap disiplin, bertanggung jawab, berjiwa sosial, kreatif, inovaif, penuhdedikasi, menjalankan program dll. Dengan metode yang tepat, kurikulum bagusdan lembaga bonafid niscaya anak akan lebih mampu bekembang pesat dibandingmereka yang tidak diasah melalui program PAUD tersebut.
B.     Saran
Dalam hal ini penulis menyarankan agar pemerintah meningkatkan perannya dalam pendidikan anak usia dini, baik dari pendanaan, perekrutan tutor yang sesuai dengan kualifikasi maupun membuka ruang seluas-luasnya kepadamasayarakat untuk mengembangkan PAUD yang sesuai dengan kondisi dankebutuhan masyarakatnya.

DAFTAR PUSTAKA

•Asmani , Jamal Ma’mur. 2009.
Manajemen Strategis Pendidikan Anak Usia Dini .Jogjakarta : DIVA Press
•Baraja, Abu Bakar. 2006 .Mendidik Anak Dengan Teladan . Jakarta : Studia Press
• http://welcomeatdegaltar.blogspot.com/2010/05/manajemen-kurikulum- pendidikan-anak.html